Loading...

Tere Liye - Ceroz dan Batozar

Tere Liye - Ceroz dan Batozar
Tere Liye - Ceroz dan Batozar
Awalnya kami hanya mengikuti karyawisata biasa seperti murid-murid sekolah lain. Hingga Ali, dengan kegeniusan dan keisengannya, memutuskan menyelidiki sebuah ruangan kuno. Kami tiba di bagian dunia paralel lainnya, menemui petarung kuat, mendapat kekuatan baru serta teknik-teknik menakjubkan.

Dunia paralel ternyata sangat luas, dengan begitu banyak orang hebat di dalamnya. Kisah ini tentang petualangan tiga sahabat. Raib bisa menghilang. Seli bisa mengeluarkan petir. Dan Ali bisa melakukan apa saja.

Tere Liye - Bintang

Tere Liye - Bintang
Tere Liye - Bintang
*Novel “BINTANG”
Kami pulang terlambat sekali setelah bertemu dengan Miss Selena di ruangan guru BP sekolah. Bertiga, menumpang angkutan umum berwarna kuning. Hanya kami isi angkot itu.

Ali terlihat bersungut-sungut, dia masih tidak terima Miss Selena melarang kami menggunakan Buku Kehidupan untuk membuka portal dunia paralel.

Pukul dua siang, di luar kendaraan terasa panas. Ali membuka jendela angkot lebar-lebar. Gerah. Jalanan macet, berisik suara klakson sesekali meningkahi suasana. Di perempatan depan, bertambah pula masalah kami. Dua orang laki-laki dewasa, mungkin usianya sekitar tiga puluh tahun, dengan pakaian semrawut, rambut berantakan, naik ke atas angkutan. Mereka sepertinya preman kota yang belakangan sering mengganggu penumpang kendaraan umum.

Seli berbisik, bilang apakah kami sebaiknya bergegas turun. Dua penumpang ini menatap kami tajam, mengancam. Belum sempat aku menyetujui pendapat Seli, dua preman itu telah beranjak duduk, membuat kami terpojok di bagian belakang angkot. Mengunci kami, tidak bisa kemana-mana. Salah-satu dari mereka berbisik kasar mengancam.

“Keluarkan uang kalian.”

Aku terdiam, menelan ludah. Seli pias, memegang lenganku. Ali justeru nyengir lebar, balik bertanya, “Eh, kalian serius mau memalak kami?”

Dua preman itu tentu saja serius. Mereka mengacungkan pisau ke arah kami. Sementara sopir angkot sepertinya tidak tahu apa yang terjadi di belakang, dia sibuk nyelip kesana-kemari di tengah macet.

“Serahkan uang kalian!” Preman itu mendesak.

Ali kali ini tertawa kecil, “Ini benar-benar menarik, setelah tadi menyebalkan di sekolah, sekarang sebuah kejutan. Maksudku, ada ribuan kendaraan umum di kota ini, kalian harus naik angkot ini, lantas menodong Raib dan Seli? Kalian apes sekali.”

Aku menyikut Ali, menyuruhnya diam. Si Biang Kerok ini selalu saja santai dalam banyak hal.

“Tapi ini benar loh, Ra. Mereka sial sekali. Bukan maksudku karena kita tidak bawa uang sama sekali. Melainkan mereka tidak tahu sedang menodong siapa.” Ali tetap tertawa.

Dua preman itu nampak marah melihat tawa Ali yang menyepelekan, mereka mengacungkan pisau lebih dekat. Hanya lima senti dari wajahku. Seli menjerit ngeri. “Tutup mulutmu, anak ingusan, serahkan uang atau aku lukai temanmu, hah!”

Splash. Aku tidak punya pilihan. Aku telah memegang lengan Seli dan Ali. Tubuh kami menghilang, untuk sesaat splash, kami bertiga telah muncul di belakang sebuah bangunan yang sepi. Aku memutuskan melakukan teknik teleportasi. Darurat. Kami memang dilarang menggunakan kekuatan kami sembarangan, tapi dengan dua pisau mengancam, menghindari keributan bisa dikecualikan.

“Ini tidak seru, Ra!” Ali langsung protes saat kami muncul, “Kamu harusnya mengirim pukulan salju berdentum ke dua preman tadi.”

Apanya yang tidak seru, aku melotot. Telat menghilang sedetik, bisa panjang urusan di angkot tadi. Pukulan berdentum. Itu ide buruk. Kami akan jadi tontonan satu kota.

“Dan kamu seharusnya menyambar mereka dengan petir, Seli! Bukan malah ketakutan.” Ali sekarang menoleh. Wajah Seli masih pias, berpegangan kepadaku.

Sementara di angkot, dua ratus meter dari lokasi kami sekarang, dua preman itu sedang sibuk meraba-raba kursi dan dinding angkot, tangan mereka menggapai-gapai udara kosong. Wajah mereka bingung. “Coy, kemana mereka?” Temannya bertanya gugup. “Aku tidak tahu. Tadi masih di sana kan, Coy?” “Tidak ada, mereka menghilang…. Jangan-jangan.” “Jangan-jangan apa?” Temannya menimpali. “Jangan-jangan mereka mahkluk jejadian.” Dua preman itu terdiam, saling tatap, lantas bergegas lompat turun dari angkot. Lari secepat mungkin.

*Novel “BINTANG”, Tere Liye

Tere Liye - Sepotong Hati Yang Baru

Tere Liye - Sepotong Hati Yang Baru
Tere Liye - Sepotong Hati Yang Baru
Kita hanya punya sepotong hati, bukan? Satu-satunya.

Lantas bagaimana kalau hati itu terluka? Disakiti justeru oleh orang yang kita cintai? Aduh, apakah kita bisa mengobatinya? Apakah luka itu bisa pulih, tanpa bekas? Atau jangan-jangan, kita harus menggantinya dengan sepotong hati yang baru.

Semoga datanglah pemahaman baik itu. Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama spesialnya dengan milik kita, tidak peduli sesederhana apapun itu, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman baik.

Selamat membaca cerita-cerita Sepotong Hati Yang Baru.

+++


Tere Liye selalu bisa merangkai kata indah yang memberikan tentang pembelajaran hidup melalui tulisan-tulisanya yang tidak hanya melulu tentang cinta. ---Nuning, Pelajar SMAN 84 Jakarta

Buku tere liye ini, meski tidak berbau agama, membuatmu ingin bersegera menjadi pribadi yang baik dan tulus. Must read! --- Azka Mahira, Mahasiswa

Mau berakhir tragis, bahagia atau menggantung sekalipun, setiap cerita tentang cinta selalu ada hikmah yang bisa kita ambil. Buktinya ada pada buku yang satu ini. Selamat terinsipirasi! --- Agung Pujia, Karyawan Swasta

Harus dibaca para "galauers" biar bisa paham bagaimana me-manage sebuah perasaan dengan baik. --- Heny Yuniarti, mahasiswa ITS-

Cocok dibaca oleh remaja. Di masa transisi ini kita seakan dibawa ke dunia penuh rasa yang 'berbeda' -Reyza Meilani, Pelajar SMAN 20 Bandung

Tere Liye - Kisah Sang Penandai

Tere Liye - Kisah Sang Penandai
Tere Liye - Kisah Sang Penandai
Duhai, apakah kau akan memilih mati ketika cinta-sejatimu tidak terwujudkan? Ataukah hanya bisa memeluk lutut, menangis tersedu, bersembunyi di balik pintu seperti anak kecil tidak kebagian sebutir permen? Adalah Jim, pemuda yatim-piatu dipilih oleh Sang Penandai (penjaga dongeng-dongeng), untuk mengukir kisah melupakan sang pujaan hati, Nayla. Adalah Jim, pemuda yang jangankan memegang pedang, membaca pun dia tidak bisa, terpilih untuk menggurat cerita tentang berdamai dengan masa-lalu. Dia harus menyelesaikan pahit-getir perjalanannya—apapun harganya! Karena kita sungguh membutuhkan dongeng ini.
“Apakah kau juga akan mati untukku?” Nayla bertanya lirih. Jim mengangguk, anggukan yang terlalu berani.

"Pembaca harus siap-siap memasuki dunia panorama samudera, gerakannya kolosal, tidak merujuk pada pilar sejarah dan geografi yang eksak, dengan plot tak terduga. Ribuan capung. Sang penandai yang tak kenal masa. Nayla dan cintanya—semua kita terima sebagai pelangi fantasi Tere-Liye" (TAUFIQ ISMAIL, Penyair)

Tere Liye - Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

Tere Liye - Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Tere Liye - Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Tutup mata kita. Tutup pikiran kita dari carut- marut kehidupan. Mari berpikir takjim sejenak. Bayangkan saat ini ada satu malaikat bersayap indah datang kepada kita, lantas lembut berkata: Aku memberikan kau kesempatan hebat. Lima kesempatan untuk bertanya tentang rahasia kehidupan, dan aku akan menjawabnya langsung sekarang. Lima Pertanyaan. Lima jawaban. Apakah pertanyaan pertamamu?
Maka apakah kita akan bertanya: Apakah cinta itu? Apakah hidup ini adil? Apakah kaya adalah segalanya? Apakah kita memilki pilihan dalam hidup? Apakah makna kehilangan?
Ray (tokoh utama dalam kisah ini), ternyata memiliki kecamuk pertanyaan sendiri. Lima pertanyaan sebelum akhirnya dia mengerti makna hidup dan kehidupannya.
Siapkan energi Anda untuk memasuki dunia Fantasi Tere-Liye tentang perjalanan hidup. Di sini hanya ada satu rumus: semua urusan adalah sederhana. Maka mulailah membaca dengan menghela nafas lega

Tere Liye - Pulang

Tere Liye - Pulang
Tere Liye - Pulang
"Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya."

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit."

“Selalu ada hal baru yang bisa direnungi dan dipahami dari novel-novel Tere Liye.”
—Pulin Sri Lestari, ibu rumah tangga

“Saat ini kita cenderung tidak lagi peduli pada banyak hal, namun novel-novel Tere Liye membantu kita untuk melihat lebih dalam dan peduli.”
—Tiara, guru/dosen

“Kayak buku pelajaran, tapi seru. Mamah kamu nggak akan ngambek kalau kamu baca novel-novel Tere Liye.”
—Khoerun Nisa, siswi SMA

“Membaca novel-novel Tere Liye seperti pulang ke rumah. Berapa jauh pun kaki melangkah, selalu ingin kembali.”
—Evi, buruh migran Indonesia

Tere Liye - Negeri Para Bedebah

Tere Liye - Negeri Para Bedebah
Tere Liye - Negeri Para Bedebah
Di negeri para bedebah, kisah fiksi kalah seru dibanding kisah nyata.

Di negeri para bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah.

Tetapi setidaknya, Kawan, di negeri para bedebah, petarung sejati tidak akan pernah berkhianat

Tere Liye - Negeri di Ujung Tanduk

Tere Liye - Negeri di Ujung Tanduk
Tere Liye - Negeri di Ujung Tanduk
Di Negeri di Ujung Tanduk kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.

Di Negeri di Ujung Tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian.

Tapi di Negeri di Ujung Tanduk setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.

Tere Liye - Moga Bunda Disayang Allah

Tere Liye - Moga Bunda Disayang Allah
Tere Liye - Moga Bunda Disayang Allah
Diangkat dari salah satu kisah nyata paling mengharukan, ditulis kembali dari salah satu film terbaik sepanjang masa

Tere Liye - Matahari

Tere Liye - Matahari
Tere Liye - Matahari
Namanya Ali, 15 tahun, kelas X. Jika saja orangtuanya mengizinkan, seharusnya dia sudah duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doktor di universitas ternama. Ali tidak menyukai sekolahnya, guru-gurunya, teman-teman sekelasnya. Semua membosankan baginya. Tapi sejak dia mengetahui ada yang aneh pada diriku dan Seli, teman sekelasnya, hidupnya yang membosankan berubah seru. Aku bisa menghilang, dan Seli bisa mengeluarkan petir. Ali sendiri punya rahasia kecil. Dia bisa berubah menjadi beruang raksasa. Kami bertiga kemudian bertualang ke tempat-tempat menakjubkan. Namanya Ali. Dia tahu sejak dulu dunia ini tidak sesederhana yang dilihat orang. Dan di atas segalanya, dia akhirnya tahu persahabatan adalah hal yang paling utama.

Tere Liye - Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah

Tere Liye - Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Tere Liye - Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya.
Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.


Seperti biasa, Tere Liye selalu bisa mencungkil hal-hal istimewa dari kehidupan yang tidak menarik perhatian. Belinda, calon dokter gigi

Tentang cinta pertama yang begitu memukau, mengajari tetapi tidak menggurui. Ayu Aditya Saputri, calon guru SLB

Jika selama ini kita sering dijejali cerita cinta termehek-mehek, maka Borno dan Mei adalah orisinal cerita cinta tentang pengorbanan yang tidak akan membuat kita menjadi mellow. Ariza, guru TK

Novel yang berbeda. Mengangkat profesi yang tidak pernah ada di novel mana pun. Kisah cinta yang sederhana, indah, dan klasik. Umi Futikhah, guru

Saya berdoa semoga saya bisa menjadikan anak lelaki saya “bujang berhati paling lurus” seperti Borno. Amin. Putri, buruh pabrik

Tere Liye - Hafalan Shalat Delisa

Tere Liye - Hafalan Shalat Delisa
Tere Liye - Hafalan Shalat Delisa
Delisa anak perempuan yang bermata hijau, bening dan umurnya baru mencecah lima tahun. Dia hidup dalam keluarganya yang sebegitu, dia cuba menghafal bacaan dalam solat dengan bantuan ibu dan kakaknya.

Namun Tuhan lebih tahu apa yang lebih baik untuk hamba-Nya. Tsunami datang melumatka senyuman pada wajah Delisa. Tsunami mengambil segala-galanya, keluarga juga kaki kecilnya. Yang tersisa, hanya dia dan ayahnya, dan dalam keadaan sebegitu apakah Delisa mampu tetap tersenyum seperti dahulu dan menyudahkan hafalannya?

Tere Liye - Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Tere Liye - Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Tere Liye - Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.
Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.
Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.
Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.

Tere Liye - Bumi

Tere Liye - Bumi
Tere Liye - Bumi
Namaku Raib, usiaku 15 tahun, kelas sepuluh. Aku anak perempuan seperti kalian, adik-adik kalian, tetangga kalian. Aku punya dua kucing, namanya si Putih dan si Hitam. Mama dan papaku menyenangkan. Guru-guru di sekolahku seru. Teman-temanku baik dan kompak.

Aku sama seperti remaja kebanyakan, kecuali satu hal. Sesuatu yang kusimpan sendiri sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan.

Namaku, Raib. Dan aku bisa menghilang.

Tere Liye - Bulan

Tere Liye - Bulan
Tere Liye - Bulan
Namanya Seli, usianya 15 tahun, kelas sepuluh. Dia sama seperti remaja yang lain. Menyukai hal yang sama, mendengarkan lagu-lagu yang sama, pergi ke gerai fast food, menonton serial drama, film, dan hal-hal yang disukai remaja.

Tetapi ada sebuah rahasia kecil Seli yang tidak pernah diketahui siapa pun. Sesuatu yang dia simpan sendiri sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan dengan tangannya.

Namanya Seli. Dan tangannya bisa mengeluarkan petir

Tere Liye - Bidadari-Bidadari Surga

Tere Liye - Bidadari-Bidadari Surga
Tere Liye - Bidadari-Bidadari Surga
Bidadari-Bidadari Surga bercerita tentang pengorbanan seorang kakak (Laisa) untuk adik-adiknya (Dalimunte, Ikanuri, Wibisana dan Yashinta) di Lembah Lahambay agar adik-adiknya dapat melanjutkan pendidikan mereka, meski ia harus bekerja di terik matahari setiap hari, mengolah gula aren setiap jam 4 pagi serta dimalam hari menganyam rotan, meski pada dasarnya keempat adik-adiknya tersebut berasal dari darah yang berbeda dengan dirinya.

Satu sisi Laisa digambarkan sebagai kakak yang galak dan tegas, mengejar-ngejar adiknya yang bolos sekolah dengan rotan dan ranting kayu. Di sisi lain, kontradiktif dengan fisiknya yang gempal, gendut, berkulit hitam, wajah yang tidak proporsional ditambah dengan rambut gimbal serta ukuran tubuhnya yang tidak normal, lebih pendek, Laisa sesungguhnya tipe kakak yang mendukung adik-adiknya, rela mengorbankan diri untuk keselamatan ‘dua anak nakal’ Ikanuri dan Wibisana dari siluman Gunung Kendeng, serta mati-matian mencari obat bagi kesembuhan adiknya Yashinta yang diserang demam panas hingga kejang pada suatu malam.

Tere Liye - Ayahku (Bukan) Pembohong

Tere Liye - Ayahku (Bukan) Pembohong
Tere Liye - Ayahku (Bukan) Pembohong
Tere Liye - Ayahku (Bukan) Pembohong
Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?

Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.

Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.


Tere-Liye adalah pengarang beberapa novel dengan rating tinggi di website para pencinta buku www.goodreads.com. Tere-Liye banyak menghabiskan waktu untuk melakukan perjalanan, mencoba memahami banyak hal dengan melihat banyak tempat. Selamat membaca novel kecil ini.

Setamat membaca buku ini, satu hal yang pasti nyata: saya menangguk banyak kearifan di kedalaman cerita.
--A. Fuadi, Penulis Trilogi Negeri 5 Menara

Sungguh Tere-Liye berhasil menggugah saya sebagai pembaca sekaligus seorang anak dari seorang ayah yang sangat saya banggakan. A must read.
--Amang Suramang, Penggerak di Goodreads Indonesia

Isinya tak hanya menggugah dan membuat haru, tapi membuat kita merasa perlu meneguhkan kembali keyakinan dan kecintaan pada keluarga. Salut atas novel ini!
--Arwin Rasyid, Presiden Direktur Bank CIMB-Niaga

Novel ini dapat menjadi langkah awal untuk menata ulang konsep budi pekerti di negeri ini.
--Muliaman D. Hadad, Deputi Gubernur Bank Indonesia

Tere Liye - Hujan

Tere Liye - Hujan
Tere Liye - Hujan
“Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri, Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta.”
― Tere Liye, Hujan

Tere Liye - About Love

Tere Liye - About Love
Tere Liye - About Love

Download Kumpulan Cerita Silat Wiro Sableng PDF

Koleksi Lengkap Cerita Silat Wiro Sableng 212
Koleksi Lengkap Cerita Silat Wiro Sableng 212
  1. Wiro Sableng 190 Sabda Pandita Ratu
  2. Wiro Sableng 189 Kematian Sang Pendekar
  3. Wiro Sableng 188 Bintang Langit Saptuning Jagat
  4. Wiro Sableng 187 Si Pengumpul Bangkai
  5. Wiro Sableng 186 Jenazah Simpanan
  6. Wiro Sableng 185 Jabang Bayi Dalam Guci
  7. Wiro Sableng 184 Dewi Dua Musim
  8. Wiro Sableng 183 Bulan Biru Di Mataram
  9. Wiro Sableng 182 Delapan Pocong Menari
  10. Wiro Sableng 181 Selir Pamungkas
  11. Wiro Sableng 180 Sesajen Atap Langit
  12. Wiro Sableng 179 Delapan Sukma Merah
  13. Wiro Sableng 178 Tabir Delapan Mayat
  14. Wiro Sableng 177 Jaka Pesolek Penangkap Petir
  15. Wiro Sableng 176 Dewi Kaki Tunggal
  16. Wiro Sableng 175 Sepasang Arwah Bisu
  17. Wiro Sableng 174 Dua Nyawa Kembar
  18. Wiro Sableng 173 Roh Jemputan
  19. Wiro Sableng 172 Empat Mayat Aneh
  20. Wiro Sableng 171 Malam Jahanam di Mataram
  21. Wiro Sableng 170 Kupu Kupu Mata Dewa
  22. Wiro Sableng 169 Bulan Sabit Di Bukit Patah
  23. Wiro Sableng 168 Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
  24. Wiro Sableng 167 Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
  25. Wiro Sableng 166 Kupu-kupu Giok Ngarai Sianok
  26. Wiro Sableng 165 Bayi Titisan
  27. Wiro Sableng 164 Janda Pulau Cingkuk
  28. Wiro Sableng 163 Cinta Tiga Ratu
  29. Wiro Sableng 162 Badai Laut Utara
  30. Wiro Sableng 161 Perjodohan Berdarah
  31. Wiro Sableng 160 Dendam Mahluk Alam Roh
  32. Wiro Sableng 159 Bayi Satu Suro
  33. Wiro Sableng 158 Si cantik Gila dari Gunung Gede
  34. Wiro Sableng 157 Nyawa Titipan
  35. Wiro Sableng 156 Topandi Gurun Tengger
  36. Wiro Sableng 155 Sang Pemikat
  37. Wiro Sableng 154 Insan Tanpa Wajah
  38. Wiro Sableng 153 Misteri Bunga Noda
  39. Wiro Sableng 152 Petaka Patung Kamasutra
  40. Wiro Sableng 151 Sang Pembunuh
  41. Wiro Sableng 150 Misteri Pedang Naga Merah
  42. Wiro Sableng 149 Si Cantik Dari Tionggoan
  43. Wiro Sableng 148 Dadu Setan
  44. Wiro Sableng 147 Api Di Puncak Merapi
  45. Wiro Sableng 146 Azab Sang Murid
  46. Wiro Sableng 145 Lentera Iblis
  47. Wiro Sableng 144 Nyi Bodong
  48. Wiro Sableng 143 Perjanjian Dengan Roh
  49. Wiro Sableng 142 Kitab Seribu Pengobatan
  50. Wiro Sableng 141 Kematian Kedua
  51. Wiro Sableng 140 Misteri Pedang Naga Suci 212
  52. Wiro Sableng 139 Api Cinta Sang Pendekar
  53. Wiro Sableng 138 Pernikahan Dengan Mayat
  54. Wiro Sableng 137 Aksara Batu Bernyawa
  55. Wiro Sableng 136 Bendera Darah
  56. Wiro Sableng 135 Rumah Tanpa Dosa
  57. Wiro Sableng 134 Nyawa Kedua
  58. Wiro Sableng 133 Lorong Kematian
  59. Wiro Sableng 132 Kutukan Sang Badik
  60. Wiro Sableng 131 Melati Tujuh Racun
  61. Wiro Sableng 130 Meraga Sukma
  62. Wiro Sableng 129 Tahta Janda Berdarah
  63. Wiro Sableng 128 Si Cantik Dalam Guci
  64. Wiro Sableng 127 Mayat Persembahan
  65. Wiro Sableng 126 Badik Sumpah Darah
  66. Wiro Sableng 125 Senandung Kematian
  67. Wiro Sableng 124 Makam Ke Tiga
  68. Wiro Sableng 123 Genderuwo Patah Hati
  69. Wiro Sableng 122 Roh Dalam Keraton
  70. Wiro Sableng 121 Tiga Makam Setan
  71. Wiro Sableng 120 Kembali Ke Tanah Jawa
  72. Wiro Sableng 119 Istana Kebahagiaan
  73. Wiro Sableng 118 Batu Pembalik Waktu
  74. Wiro Sableng 117 Muka Tanah Liat
  75. Wiro Sableng 116 Hantu Selaksa Angin
  76. Wiro Sableng 115 Rahasia Perkhawinan Wiro
  77. Wiro Sableng 114 Badai Fitnah Latanah Silam
  78. Wiro Sableng 113 Hantu Santet Laknat
  79. Wiro Sableng 112 Rahasia Mawar Beracun
  80. Wiro Sableng 111 Hantu Langit Terjungkir
  81. Wiro Sableng 110 Rahasia Patung Menangis
  82. Wiro Sableng 109 Rahasia Kincir Hantu
  83. Wiro Sableng 108 Hantu Muka Dua
  84. Wiro Sableng 107 Hantu Tangan Empat
  85. Wiro Sableng 106 Rahasia Bayi Tergantung
  86. Wiro Sableng 105 Hantu Jatilandak
  87. Wiro Sableng 104 Peri Angsa Putih
  88. Wiro Sableng 103 Hantu Bara Kaliatus
  89. Wiro Sableng 102 Bola Bola Iblis
  90. Wiro Sableng 101 Gerhana Di Gajah Mungkur
  91. Wiro Sableng 100 Dendam Dalam Titisan
  92. Wiro Sableng 099 Wasiat Malaikat
  93. Wiro Sableng 098 Rahasia Cinta Tua Gila
  94. Wiro Sableng 097 Liang Lahat Gajah Mungkur
  95. Wiro Sableng 096 Utusan Dari Akhirat
  96. Wiro Sableng 095 Jagal Iblis Makam Setan
  97. Wiro Sableng 094 Pedang Naga Suci 212
  98. Wiro Sableng 093 Lembah Akhirat
  99. Wiro Sableng 092 Asmara Darah Tua Gila
  100. Wiro Sableng 091 Tua Gila Dari Andalas
  101. Wiro Sableng 090 Kiamat Di Pangandaran
  102. Wiro Sableng 089 Geger Di Pangandaran
  103. Wiro Sableng 088 Muslihat Cinta Iblis
  104. Wiro Sableng 087 Muslihat Para Iblis
  105. Wiro Sableng 086 Delapan Sabda Dewa
  106. Wiro Sableng 085 Wasiat Sang Ratu
  107. Wiro Sableng 084 Wasiat Dewa
  108. Wiro Sableng 083 Wasiat Iblis
  109. Wiro Sableng 082 Dewi Ular
  110. Wiro Sableng 081 Dendam Manusia Paku
  111. Wiro Sableng 080 Sepasang Manusia Bonsai
  112. Wiro Sableng 079 Ninja Merah
  113. Wiro Sableng 078 Pendekar Dari Gunung Fuji
  114. Wiro Sableng 077 Kepala Iblis Nyi Gandasuri
  115. Wiro Sableng 076 Ku Tunggu Di Pintu Neraka
  116. Wiro Sableng 075 Harimau Singgalang
  117. Wiro Sableng 074 Dendam di Puncak Singgalang
  118. Wiro Sableng 073 Guci Setan
  119. Wiro Sableng 072 Purnama Berdarah
  120. Wiro Sableng 071 Bujang Gila Tapak Sakti
  121. Wiro Sableng 070 Ki Ageng Tunggul Akhirat
  122. Wiro Sableng 069 Ki Ageng Tunggul Keparat
  123. Wiro Sableng 068 Pelangi Di Majapahit
  124. Wiro Sableng 067 Halilintar Singosari
  125. Wiro Sableng 066 Singa Gurun Bromo
  126. Wiro Sableng 065 Hari-Hari Terkutuk
  127. Wiro Sableng 064 Betina Penghisap Darah
  128. Wiro Sableng 063 Neraka Krakatau
  129. Wiro Sableng 062 Kamandaka Murid Murtad
  130. Wiro Sableng 061 Makam Tanpa Nisan
  131. Wiro Sableng 060 Serikat Candu Iblis
  132. Wiro Sableng 059 Peti Mati dari Jepara
  133. Wiro Sableng 058 Bahala Jubah Kencono Geni
  134. Wiro Sableng 057 Nyawa Yang Terhutang
  135. Wiro Sableng 056 Ratu Mesum Bukit Kemukus
  136. Wiro Sableng 055 Misteri Dewi Bunga Mayat
  137. Wiro Sableng 054 Pembalasan Pendekar Bule
  138. Wiro Sableng 053 Kutukan dari Liang Kubur
  139. Wiro Sableng 052 Guna Guna Tombak Api
  140. Wiro Sableng 051 Raja Sesat Penyebar Racun
  141. Wiro Sableng 050 Mayat Hidup Gunung Klabat
  142. Wiro Sableng 049 Srigala Iblis
  143. Wiro Sableng 048 Memburu Si Penjagal Mayat
  144. Wiro Sableng 047 Pembalasan Ratu Laut Utara
  145. Wiro Sableng 046 Serikat Setan Merah
  146. Wiro Sableng 045 Manusia Halilintar
  147. Wiro Sableng 044 Topeng Buat Wiro Sableng
  148. Wiro Sableng 043 Dewi Lembah Bangkai
  149. Wiro Sableng 042 Badai di Parangtritis
  150. Wiro Sableng 041 Malaikat Maut Berambut Salju
  151. Wiro Sableng 040 Setan dari Luar Jagat
  152. Wiro Sableng 039 Kelelawar Hantu
  153. Wiro Sableng 038 Iblis Berjanggut Biru
  154. Wiro Sableng 037 Maut Bermata Satu
  155. Wiro Sableng 036 Dewi Dalam Pasungan
  156. Wiro Sableng 035 Telaga Emas Berdarah
  157. Wiro Sableng 034 Munculnya Sinto Gendeng
  158. Wiro Sableng 033 Panglima Buronan
  159. Wiro Sableng 032 Bajingan Dari Susukan
  160. Wiro Sableng 031 Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
  161. Wiro Sableng 030 Dosa Dosa Tak Berampun
  162. Wiro Sableng 029 Bencana di Kuto Gede
  163. Wiro Sableng 028 Petaka Gundik Jelita
  164. Wiro Sableng 027 Khianat Seorang Pendekar
  165. Wiro Sableng 026 Iblis-Iblis Kota Hantu
  166. Wiro Sableng 025 Cinta Orang-orang Gagah
  167. Wiro Sableng 024 Penculik Mayat Hutan Roban
  168. Wiro Sableng 023 Cincin Warisan Setan
  169. Wiro Sableng 022 Siluman Teluk Gonggo
  170. Wiro Sableng 021 Neraka Puncak Lawu
  171. Wiro Sableng 020 Hidung Belang Berkipas Sakti
  172. Wiro Sableng 019 Pendekar Dari Gunung Naga
  173. Wiro Sableng 018 Pendekar Pedang Akhirat
  174. Wiro Sableng 017 5 Iblis dari Nanking
  175. Wiro Sableng 016 Hancurnya Istana Darah
  176. Wiro Sableng 015 Mawar Merah Menuntut Balas
  177. Wiro Sableng 014 Sepasang Iblis Betina
  178. Wiro Sableng 013 Kutukan Empu Bharata
  179. Wiro Sableng 012 Pembalasan Nyoman Dwipa
  180. Wiro Sableng 011 Raja Rencong Dari Utara
  181. Wiro Sableng 010 Banjir Darah di Tambun Tulang
  182. Wiro Sableng 009 Rahasia Lukisan Telanjang
  183. Wiro Sableng 008 Dewi Siluman Bukit Tunggul
  184. Wiro Sableng 007 Tiga Setan Darah Dan Cambuk Api Angin
  185. Wiro Sableng 006 Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
  186. Wiro Sableng 005 Neraka Lembah Tengkorak
  187. Wiro Sableng 004 Keris Tumbal Wilayuda
  188. Wiro Sableng 003 Dendam Orang Orang Sakti
  189. Wiro Sableng 002 Maut Bernyanyi Di Pajajaran
  190. Wiro Sableng 001 Empat Berewok Dari Goa Sanggreng

Wiro Sableng 190 Sabda Pandita Ratu

Wiro Sableng 190 Sabda Pandita Ratu
Wiro Sableng 190 Sabda Pandita Ratu
Wiro Sableng atau Pendekar 212 adalah tokoh fiksi serial novel yang ditulis oleh Bastian Tito. Wiro terlahir dengan nama Wira Saksana yang sejak bayi telah digembleng oleh gurunya yang terkenal di dunia persilatan dengan nama Sinto Gendeng.

Wiro adalah seorang pendekar dengan senjata Kapak Maut Naga Geni 212 dan memiliki rajah "212" di dadanya. Wiro memiliki banyak kesaktian yang diperoleh selama petualangannya di dunia persilatan dan dari berbagai guru.

Wiro Sableng 189 Kematian Sang Pendekar

Wiro Sableng 189 Kematian Sang Pendekar
Wiro Sableng 189 Kematian Sang Pendekar
Wiro Sableng atau Pendekar 212 adalah tokoh fiksi serial novel yang ditulis oleh Bastian Tito. Wiro terlahir dengan nama Wira Saksana yang sejak bayi telah digembleng oleh gurunya yang terkenal di dunia persilatan dengan nama Sinto Gendeng.

Wiro adalah seorang pendekar dengan senjata Kapak Maut Naga Geni 212 dan memiliki rajah "212" di dadanya. Wiro memiliki banyak kesaktian yang diperoleh selama petualangannya di dunia persilatan dan dari berbagai guru.

Wiro Sableng 188 Bintang Langit Saptuning Jagat

Wiro Sableng 188  Bintang Langit Saptuning Jagat
Wiro Sableng 188 Bintang Langit Saptuning Jagat
Wiro Sableng atau Pendekar 212 adalah tokoh fiksi serial novel yang ditulis oleh Bastian Tito. Wiro terlahir dengan nama Wira Saksana yang sejak bayi telah digembleng oleh gurunya yang terkenal di dunia persilatan dengan nama Sinto Gendeng.

Wiro adalah seorang pendekar dengan senjata Kapak Maut Naga Geni 212 dan memiliki rajah "212" di dadanya. Wiro memiliki banyak kesaktian yang diperoleh selama petualangannya di dunia persilatan dan dari berbagai guru.

Wiro Sableng 187 Si Pengumpul Bangkai

Wiro Sableng 187  Si Pengumpul Bangkai
Wiro Sableng 187 Si Pengumpul Bangkai
Wiro Sableng atau Pendekar 212 adalah tokoh fiksi serial novel yang ditulis oleh Bastian Tito. Wiro terlahir dengan nama Wira Saksana yang sejak bayi telah digembleng oleh gurunya yang terkenal di dunia persilatan dengan nama Sinto Gendeng.

Wiro adalah seorang pendekar dengan senjata Kapak Maut Naga Geni 212 dan memiliki rajah "212" di dadanya. Wiro memiliki banyak kesaktian yang diperoleh selama petualangannya di dunia persilatan dan dari berbagai guru.

Wiro Sableng 186 Jenazah Simpanan

Wiro Sableng 186 Jenazah Simpanan
Wiro Sableng 186 Jenazah Simpanan
Wiro Sableng atau Pendekar 212 adalah tokoh fiksi serial novel yang ditulis oleh Bastian Tito. Wiro terlahir dengan nama Wira Saksana yang sejak bayi telah digembleng oleh gurunya yang terkenal di dunia persilatan dengan nama Sinto Gendeng.

Wiro adalah seorang pendekar dengan senjata Kapak Maut Naga Geni 212 dan memiliki rajah "212" di dadanya. Wiro memiliki banyak kesaktian yang diperoleh selama petualangannya di dunia persilatan dan dari berbagai guru.

Wiro Sableng 185 Jabang Bayi Dalam Guci

Wiro Sableng 185 Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng 185 Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng atau Pendekar 212 adalah tokoh fiksi serial novel yang ditulis oleh Bastian Tito. Wiro terlahir dengan nama Wira Saksana yang sejak bayi telah digembleng oleh gurunya yang terkenal di dunia persilatan dengan nama Sinto Gendeng.

Wiro adalah seorang pendekar dengan senjata Kapak Maut Naga Geni 212 dan memiliki rajah "212" di dadanya. Wiro memiliki banyak kesaktian yang diperoleh selama petualangannya di dunia persilatan dan dari berbagai guru.

Wiro Sableng 184 Dewi Dua Musim

Wiro Sableng 184 Dewi Dua Musim
Wiro Sableng 184 Dewi Dua Musim
Wiro Sableng atau Pendekar 212 adalah tokoh fiksi serial novel yang ditulis oleh Bastian Tito. Wiro terlahir dengan nama Wira Saksana yang sejak bayi telah digembleng oleh gurunya yang terkenal di dunia persilatan dengan nama Sinto Gendeng.

Wiro adalah seorang pendekar dengan senjata Kapak Maut Naga Geni 212 dan memiliki rajah "212" di dadanya. Wiro memiliki banyak kesaktian yang diperoleh selama petualangannya di dunia persilatan dan dari berbagai guru.

Wiro Sableng 183 Bulan Biru Di Mataram

Wiro Sableng 183 Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng 183 Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng atau Pendekar 212 adalah tokoh fiksi serial novel yang ditulis oleh Bastian Tito. Wiro terlahir dengan nama Wira Saksana yang sejak bayi telah digembleng oleh gurunya yang terkenal di dunia persilatan dengan nama Sinto Gendeng.

Wiro adalah seorang pendekar dengan senjata Kapak Maut Naga Geni 212 dan memiliki rajah "212" di dadanya. Wiro memiliki banyak kesaktian yang diperoleh selama petualangannya di dunia persilatan dan dari berbagai guru.

Wiro Sableng 182 Delapan Pocong Menari

Wiro Sableng 182 Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng 182 Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng atau Pendekar 212 adalah tokoh fiksi serial novel yang ditulis oleh Bastian Tito. Wiro terlahir dengan nama Wira Saksana yang sejak bayi telah digembleng oleh gurunya yang terkenal di dunia persilatan dengan nama Sinto Gendeng.

Wiro adalah seorang pendekar dengan senjata Kapak Maut Naga Geni 212 dan memiliki rajah "212" di dadanya. Wiro memiliki banyak kesaktian yang diperoleh selama petualangannya di dunia persilatan dan dari berbagai guru.

Wiro Sableng 181 Selir Pamungkas

Wiro Sableng 181 Selir Pamungkas
Wiro Sableng 181 Selir Pamungkas
Wiro Sableng atau Pendekar 212 adalah tokoh fiksi serial novel yang ditulis oleh Bastian Tito. Wiro terlahir dengan nama Wira Saksana yang sejak bayi telah digembleng oleh gurunya yang terkenal di dunia persilatan dengan nama Sinto Gendeng.

Wiro adalah seorang pendekar dengan senjata Kapak Maut Naga Geni 212 dan memiliki rajah "212" di dadanya. Wiro memiliki banyak kesaktian yang diperoleh selama petualangannya di dunia persilatan dan dari berbagai guru.